Skip ke Konten

Salim S. Mengga dan Warisan Keteladanan Orang Mandar

Oleh: Hamzah, Dosen Pascasarjana IAIN Parepare
31 Januari 2026 oleh
Salim S. Mengga dan Warisan Keteladanan Orang Mandar
Humas IAIN Parepare

Sebagai putra asli Pambusuang, anak kampung yang kesehariannya dihabiskan bermain di tepi pantai, layangan, mancing, dan tak pernah alfa mandi laut, kami tumbuh di persilangan budaya pesisir dan nilai-nilai kesantrian. Nama Hamzah Aziz putera Abd Aziz penjual Ikan Tuna (bau tioyo) Pasar Babalembang, dilahirkan di Pambusuang - Biring Bonde pada tahun 1987, yang tumbuh besar dan masa kecilnya banyak bersama dengan kakek dan nenek (alm. Sagena/Kama Rabi, Abd. Azis/Kama Suriana), dalam rumah yang sarat cerita, bukan sekadar dongeng, melainkan kisah-kisah keteladanan tentang tokoh-tokoh besar Mandar. Dari merekalah kami mendengar, berulang-ulang, cerita kenangan tentang almarhum Baharuddin Lopa dan S. Mengga, ayah dari almarhum Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Cerita-cerita itu tidak hanya membentuk ingatan, tetapi menanamkan nilai tentang arti kejujuran, keberanian, dan kehormatan diri sebagai orang Mandar.Seiring waktu, kisah-kisah itu tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Saya sendiri sering membaca tentang ketokohan alm. Baharuddin Lopa sebagai pendekar hukum Indonesia dari tanah Mandar, saya juga pernah mengangkat ketokohannya, mengulas di depan Dosen kami sebagai tugas mandiri mata kuliah sewaktu duduk studi Doktor di UIN Maliki Malang 2017. Juga saya sering menghadiri pertemuan-pertemuan dan pesan moral yang disampaikan langsung oleh almarhum Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga setiap kali beliau kembali dan hadir di Pambusuang. Dari situlah saya menyaksikan langsung kesinambungan nilai lintas generasi bahwa apa yang diceritakan kakek-nenek kami, benar-benar hidup dalam sosok beliau.Bagi saya, Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga bukan sekadar tokoh daerah, bukan pula hanya purnawirawan jenderal atau Wakil Gubernur Sulawesi Barat. Beliau adalah panutan hidup, sosok yang kehadirannya selalu mengingatkan makna menjadi orang Mandar yang sebenar-benarnya. Setelah almarhum Baharuddin Lopa, beliaulah figur yang paling kuat menanamkan nilai itu dalam kesadaran saya.Setiap kali beliau hadir di Pambusuang, kampung ini seakan hidup kembali, rombongan masyarakat menanti dan ingin menghadiri baik di pelataran masyarakat maupun di mimbar Masjid Jami At-Taqwa Pambusuang. Ada semangat yang menyala, ada keteduhan yang menyelimuti. Masyarakat berkumpul, mendengarkan petuah-petuah karismatik yang lahir dari pengalaman, kebijaksanaan, dan ketulusan. Beliau berbicara dengan ketawadhuan, dan hidup dengan keistiqamahan, menanamkan nilai a-Mandar-an tentang kejujuran, kesantunan, dan keberanian berdiri di atas kebenaran, tanpa kompromi.Kepergian beliau merupakan kesedihan yang sangat berat bagi warga Pambusuang secara khusus, dan masyarakat Sulawesi Barat secara umum. Kami kehilangan seorang orang tua, seorang penuntun moral, dan seorang teladan yang selama ini menjadi rujukan sikap dan pandangan hidup. Duka ini adalah duka kolektif atas wafatnya penjaga nilai.Pambusuang memiliki kedekatan sejarah dan emosional dengan dua tokoh panutan pemimpin besar: alm. Baharuddin Lopa dan Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Keduanya hadir dalam lintasan zaman yang berbeda, namun berpijak pada nilai yang sama: integritas, keberanian, dan kejujuran. Di rumah kami di Pambusuang, foto kedua tokoh ini terpajang berdampingan (Salim S. Mengga masa muda dan Alm. Baharuddin Lopa seperti di gambar), bukan sebagai simbol kultus, melainkan sebagai pengingat moral agar kami tidak lupa jati diri sebagai orang Mandar yang menjunjung nilai a-Mandar-an yang selalu mereka petuahkan.Mayjend. Salim S. Mengga mengajarkan bahwa menjadi besar tidak harus meninggalkan akar. Justru kebesaran lahir dari kesetiaan pada nilai: jujur dalam sikap, santun dalam tutur, dan berani dalam kebenaran. Inilah warisan paling berharga yang beliau tinggalkan, warisan yang tidak tertulis dalam dokumen kebijakan, tetapi hidup dalam teladan.Sabtu hari ini, tanggal 31 Januari 2026 beliau telah berpulang kehadirat sang Mahakuasa Ilahi Rabb. Namun selama nilai kejujuran, kesantunan, dan keberanian terus diamalkan, dihidupkan, maka keteladanan Mayjend. Salim S. Mengga akan tetap hidup di tengah masyarakat Mandar, dan akan selalu hadir dalam kesadaran kolektif kami.Selamat jalan, Panutan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal bakti alm., mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, albaqa'u lillah wahdah, kekekalan itu hanya milik Allah, manusia hanyalah makhluk fana', yg akan kembali ke hadirat Sang Pemilik (Allah SWT).. Belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Mayjen TNI (Purn.) Salim S. Mengga. Warisan nilai dan keteladananmu akan terus kami jaga, dari Pambusuang, untuk Mandar, Sulawesi Barat dan Indonesia.

di dalam Opini
Mempermudah Urusan Orang Lain
oleh: Muhammad Haramain (Ketua LP2M IAIN Parepare)