Skip ke Konten

Dari Reso ke Resolusi: Tahun Baru Akademisi dan Masa Depan Kampus

27 Desember 2025 oleh
Dari Reso ke Resolusi: Tahun Baru Akademisi dan Masa Depan Kampus
Humas IAIN Parepare

Oleh : Dr. Musyarif (Dosen IAIN Parepare)


Humas IAIN Parepare --- Pergantian tahun Masehi selalu membawa harapan baru. Kalender berganti, usia bertambah, dan rencana kembali disusun. Namun bagi dunia akademik, tahun baru seharusnya tidak sekadar menjadi penanda waktu, melainkan momentum refleksi dan pembaruan arah keilmuan. Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar: apakah kita benar-benar bergerak maju, atau sekadar mengulang rutinitas yang sama dengan kemasan yang berbeda?

Dalam budaya Bugis, kemajuan dan kehormatan tidak lahir dari sekadar niat atau status, melainkan dari reso kerja keras yang sungguh-sungguh. Ungkapan “Resopa temmangingngi namalomo naletei pammase dewata” mengajarkan bahwa rahmat dan keberhasilan hanya akan menyertai mereka yang bersungguh-sungguh berikhtiar. Nilai inilah yang sejatinya sangat relevan bagi dunia akademik di awal tahun.

Sayangnya, di banyak kampus, tahun baru sering berlalu tanpa perubahan berarti. Aktivitas akademik kembali berjalan seperti biasa: mengajar, rapat, laporan, dan target kinerja. Kesibukan meningkat, tetapi refleksi justru menipis. Kampus tampak hidup, namun tidak selalu tumbuh secara intelektual. Dalam kondisi seperti ini, reso kerap bergeser makna—bukan lagi kerja keras keilmuan, melainkan sekadar sibuk administratif.

Bagi seorang akademisi, reso bukan hanya soal bekerja keras secara fisik atau memenuhi kewajiban formal. Reso adalah kesungguhan intelektual dan moral: membaca dengan tekun, berpikir dengan jujur, meneliti dengan integritas, dan mengajar dengan tanggung jawab. Tanpa reso semacam ini, ilmu kehilangan daya hidupnya, dan kampus kehilangan arah.

Tahun baru seharusnya menjadi ruang jeda untuk muhasabah akademik. Bukan sekadar menghitung beban mengajar atau jumlah publikasi, tetapi menimbang kembali makna peran kita sebagai insan akademik. Apakah kita masih memiliki semangat belajar? Apakah ilmu yang kita ajarkan dan teliti benar-benar memberi dampak bagi mahasiswa dan masyarakat? Ataukah kita telah terjebak dalam kenyamanan rutinitas yang mematikan daya kritis?

Di sinilah pentingnya mengubah reso menjadi resolusi akademik. Resolusi bukan janji kosong yang ditulis di awal tahun lalu dilupakan di tengah jalan. Resolusi akademik adalah komitmen nyata untuk bertumbuh baik secara personal maupun institusional. Resolusi untuk mengajar dengan lebih bermakna, meneliti dengan lebih relevan, dan menulis dengan lebih jujur.

Budaya Bugis juga mengenal nilai getteng—keteguhan prinsip. Nilai ini penting bagi akademisi di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan pragmatis. Keteguhan untuk menjaga idealisme ilmu, meski tekanan administratif semakin kuat. Keteguhan untuk tetap kritis, meski budaya kampus kadang lebih menyukai kepatuhan daripada pemikiran. Tanpa getteng, akademisi mudah lelah dan kehilangan arah.

Pengembangan kampus tidak bisa dilepaskan dari kualitas akademisinya. Kampus tidak akan maju hanya dengan gedung megah, slogan visi, atau kebijakan strategis. Ia tumbuh dari etos kerja keilmuan para dosen dan tenaga pendidik. Kampus besar lahir dari akademisi yang tekun bekerja, jujur dalam berpikir, dan konsisten dalam berkarya. Dari mereka yang menjadikan reso sebagai jalan hidup, bukan sekadar tuntutan pekerjaan.

Namun refleksi ini tidak boleh berhenti pada institusi semata. Akademisi juga harus berani bercermin pada diri sendiri. Terlalu sering kita berharap kampus berubah, tetapi enggan mengubah kebiasaan pribadi. Padahal dalam falsafah Bugis, perubahan besar selalu dimulai dari diri dari keberanian menata niat dan memperbaiki langkah. Tanpa pembaruan dari dalam, perubahan struktural hanya akan bersifat kosmetik.

Tahun baru juga mengingatkan bahwa waktu terus bergerak. Setiap tahun yang berlalu tanpa pertumbuhan intelektual adalah kehilangan kesempatan. Akademisi yang berhenti belajar sejatinya sedang menjauh dari martabat ilmunya. Sibuk bukan ukuran keberhasilan, dan produktif secara administratif belum tentu produktif secara keilmuan.

Karena itu, awal tahun semestinya menjadi titik tolak untuk menyusun resolusi akademik yang sederhana tetapi konsisten. Tidak harus muluk. Cukup dimulai dari hal-hal mendasar: membaca lebih tekun, menulis lebih bermakna, meneliti dengan lebih jujur, dan membimbing mahasiswa dengan empati. Dari langkah-langkah kecil inilah perubahan besar perlahan tumbuh.

Pada akhirnya, dari reso menuju resolusi adalah perjalanan kesadaran. Ketika kerja keras bertemu dengan niat yang lurus dan nilai budaya yang kokoh, akademisi tidak hanya berkembang sebagai individu, tetapi juga menjadi motor penggerak kemajuan kampus. Kampus pun tidak sekadar menjadi tempat bekerja, melainkan ruang pengabdian dan pemuliaan ilmu.

Semoga tahun yang baru tidak hanya membawa kesibukan baru, tetapi juga keteguhan niat, kesungguhan ikhtiar, dan keberanian berkontribusi. Sebab masa depan kampus, pada akhirnya, sangat ditentukan oleh seberapa sungguh para akademisinya menjadikan reso sebagai jalan menuju resolusi.




Editor : Suherman

 

di dalam Opini
Ketika Ayah Mengambil Rapor: Pendidikan, Kehadiran, dan Etika Pengasuhan
oleh : Suhartina