Humas IAIN Parepare - Sebuah laptop pinjaman pernah menjadi salah satu modal Muh. Fiqri Alif Utama untuk mengejar prestasi. Hari ini, mahasiswa yang dahulu harus berbagi fasilitas dengan teman itu berdiri sebagai Wisudawan Terbaik dengan capaian IPK 4,00. Kisah tersebut menjadi bagian dari Wisuda Sarjana dan Magister Tahap II IAIN Parepare Tahun 2026 Sesi 2 yang berlangsung di Auditorium IAIN Parepare, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Fiqri merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Keuangan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Ia menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 3 tahun 10 bulan. Capaian akademik tersebut tidak lahir dari fasilitas yang serba lengkap.
Pada awal perkuliahan, Fiqri bahkan sempat mempertimbangkan untuk meninggalkan bangku kuliah karena persoalan biaya. Alih-alih berhenti, ia mencari jalan lain. Kesempatan mendapatkan beasiswa dari Eramet menjadi salah satu titik yang membuatnya dapat melanjutkan pendidikan. Di saat yang sama, ia mulai membangun kemandirian melalui berbagai pekerjaan freelance.
Dari pekerjaan tersebut, Fiqri menyisihkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membeli perlengkapan yang dibutuhkan, sekaligus mempersiapkan biaya perkuliahan pada semester berikutnya.
Dalam perjalanan mengikuti berbagai lomba, laptop yang digunakannya masih meminjam dari temannya, Ilham. Bahkan, ketika mengerjakan pekerjaan _freelance_ yang membutuhkan produksi konten, ia sesekali menggunakan telepon genggam milik temannya, Lutfi. Keterbatasan itu tidak membuatnya menunggu sampai memiliki fasilitas yang ideal.


“Saya belajar untuk menggunakan apa yang ada. Saat mengikuti lomba, laptop masih meminjam dari teman. Untuk beberapa pekerjaan _freelance_ , saya juga meminjam HP teman. Dari situ saya berusaha mengumpulkan penghasilan sedikit demi sedikit untuk memenuhi kebutuhan dan membeli perlengkapan yang saya perlukan,” ujar Fiqri.
Di tengah aktivitas tersebut, Fiqri justru membangun kebiasaan yang kemudian menjadi salah satu kunci perjalanannya: menerima peluang. Setiap tawaran proyek kampus, arahan dosen, maupun kesempatan lain yang dinilai dapat menambah pengalaman, ia berusaha menjalaninya. Baginya, peluang merupakan ruang untuk belajar sekaligus mengembangkan kemampuan.
Namun, mengambil banyak kesempatan juga menuntut konsekuensi. Fiqri harus membagi waktu antara perkuliahan, pekerjaan, kegiatan, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Energi menjadi harga yang harus dibayar. Tidak jarang ia merasa tidak enak ketika harus menolak sebuah tawaran karena pertimbangan waktu.
“Saya memang berusaha menerima setiap peluang yang datang. Tetapi dari situ saya juga belajar bahwa peluang harus diimbangi dengan kemampuan mengatur waktu dan energi. Jangan sampai kegiatan lain membuat tanggung jawab utama sebagai mahasiswa terganggu,” katanya.
Prinsip tersebut membawanya menjaga performa akademik hingga akhir masa studi. Di tengah berbagai aktivitas, Fiqri mampu mempertahankan capaian akademiknya hingga meraih IPK 4,00.
Baginya, angka tersebut bukan sekadar hasil belajar di ruang kelas. Ada proses panjang dalam membangun keberanian mengambil kesempatan, belajar dari keterbatasan, sekaligus menentukan prioritas.
Ketika diminta menggambarkan seluruh perjalanan kuliahnya dalam satu kata, Fiqri memilih “proses”. Proses itulah yang membawanya dari mahasiswa yang sempat ragu melanjutkan kuliah karena biaya, kemudian memperoleh beasiswa, bekerja _freelance_ , memanfaatkan fasilitas yang tersedia, hingga akhirnya berdiri sebagai salah satu wisudawan terbaik IAIN Parepare.
Setelah menyandang gelar sarjana, Fiqri tidak ingin menjadikan pencapaian tersebut sebagai garis akhir. Ia ingin melangkah lebih jauh dengan membawa satu tujuan utama: membanggakan orang tua sekaligus tetap menjaga nama baik almamater.
Untuk kedua orang tuanya, Saharuddin dan Rosita Tahir, Fiqri menyampaikan pesan sederhana.
“Sayangki Bu, sayangki Ayah. Terima kasih untuk semua doa dan dukungannya. Semoga apa yang saya capai hari ini bisa menjadi kebanggaan untuk orang tua dan menjadi langkah awal untuk membanggakan almamater,” ungkapnya.


Bagi mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan, Fiqri tidak menawarkan kalimat motivasi yang rumit. Ia hanya mengingatkan bahwa setiap orang memiliki arena perjuangannya sendiri.
“Sekalipun hidup adalah sebuah kompetisi, lawan terberatnya adalah diri kita sendiri. Jadi, teruslah berusaha menjadi lebih baik dari diri kita yang kemarin,” pesannya.
Dari fasilitas yang pernah dipinjam hingga capaian IPK sempurna, perjalanan Muh. Fiqri Alif Utama menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari keadaan yang lengkap.
Kadang, yang dibutuhkan bukan fasilitas yang sempurna, tetapi keberanian untuk memulai dengan apa yang ada, kesediaan menangkap setiap peluang, dan kemauan untuk terus bertumbuh sepanjang proses.
Penulis : Nur Aeni K
Editor : Sri Rahayu